Bagian 2

Menjemput beasiswa (2): Informasi beasiswa tidak merata

1. Sebagai Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI 2000-2003, saya mencoba untuk secara afirmatif membantu mahasiswa untuk mendapatkan beasiswa dengan mencarikan melalui kerjasama maupun mencarikan informasi dari lembaga-lembaga beasiswa yang ada. Alhamdulillah, pada periode saya menjadi Ketua Program Pascasarjana, banyak mahasiswa yang mendapatkan
beasiswa. Kalau tidak bisa memperoleh beasiswa, saya punya program mahasiswa dapat hutang ke Program Pascasarjana dan kemudian membayarnya secara bertahap. Kalau tidak bisa membayar, saya memberikan pekerjaan di Program Pascarasjana supaya hutangnya bisa dilunasi.

2. Beasiswa dari USAID, saya melihatnya sangat elitist. Tapi saya belum pernah mencoba. Pertama, yang mendapatkan beasiswa adalah mereka yang memiliki bahasa inggris sangat bagus. Tidak ada program untuk training Bahasa Inggris, sepengetahuan saya. Mungkin saya salah. Itu info yang dahulu kala saya akan coba. Kedua, koneksi menjadi sangat penting,
sirkulasi elit sangat penting (sirkulasinya elit terbatas). Silahkan dari teman-teman yang telah mendapatkan beasiswa dari USAID dapat share.
Saya sendiri setelah selesai mendapat Ph.D baru mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat untuk short course program yang 3 bulanan tentang Federalism and Scholarly Aproaches pada tahun 1997. Pada waktu itu di kantor USAID di washington saya katakan perlunya untuk memperluas target beasiswa agar merata untuk Indonesia dari Merauke sampai Sabang.

3. Beasiswa ke Inggris, koneksi menjadi penting, selain Bhs Inggris juga penting. Saya membantu beberapa asisten dosen saya baik yang bahasa Inggrisnya pas-pasan maupun yang sudah bagus untuk dapat beasiswa ke Inggris. Alhamdulillah sebagian besar lolos.

4. Beasiswa ke Australia, memiliki model target yang lebih jelas, 50% untuk perempuan, Bhs Inggris so so, karena Australia memiliki program untuk memberikan training bhs Inggris sampai 5 bulan di Indonesia. Bahkan masih dapat ditambah 8 minggu Bridging Course di Australia. Konteks dari Indonesia Timur dan Aceh (sekarang banyak sekali beasiswa untuk Aceh baik ke Australia maupun ke Amerika). Walaupun akhirnya bukan orang Aceh yang mendapatkannya.

Koneksi atau rekomendasi dari dosen di Australia menjadi sangat penting untuk keberhasilan beasiswa tersebut. Bagaimana caranya, tulis email saja langsung dengan professor atau dosen di perguruan tinggi Australia yang topiknya mirip dengan studi yang akan diambil. Kemampuan untuk membuat proposal yang akan dinilai. Apakah topiknya seksi atau tidak?

Contoh, akan mudah mendapatkan beasiswa kalau anda mengambil topik tentang politik Papua, Timor Timur atau Aceh. Ada kawan saya yang mengambil topik pemikiran politik berkali-kali tidak pernah bisa lolos. Dengan peta politik isu terorisme menjadi isu primadona untuk penerima beasiswa. Apalagi sekarang, baik AUSAID maupun USAID kelihatannya sangat senang untuk memberikan beasiswa dari IAIN atau kelompok Islam. Anda yang dari HMI dapat menggunakan kesempatan ini. Di Australia, sebagian besar yang ambil Master dan Ph.D Ilmu Politik berlatar-belakang dari IAIN.

5. Makanya dalam Miriam Budiardjo Lecture yang diselenggarakan oleh IAIPI di LIPI bulan lalu, saya dalam lecture tersebut mengatakan bahwa profesi Ilmu Politik sudah diambil alih oleh IAIN, bahkan anggota KPU diketuai oleh Doktor dari IAIN (dari dua prof di KPU, satu IAIN satunya lagi pertanian). Mudah-2an 3 lulusan IAIN di KPU tersebut Iqra terlebih dahulu.

Bagi anda yang lulusan IAIN sekarang sedang seksi sekali karena Islam dianggap sumber “teroris” so, mereka akan memberikan beasiswa untuk topik-2 politik Islam. Itu analisa saya. There is no such thing like free lunch. Beasiswa juga demikian. Penerima beasiswa harus percaya diri, jangan kemudian lupa kepada akar dan bangsanya sendiri.

6. Saya pernah menjadi bagian untuk menentukan beasiswa dari Belanda.
Sayangnya saya harus berhenti karena mereka menganggap saya koruptor di KPU. Anyway, Belanda juga memiliki program untuk kelompok Islam dari Ambon, tapi tidak banyak informasi tersebut yang sampai ke kelompok Islam. Menurut mereka, mereka menyadari memberikan beasiswa hanya kepada kelompok Kristen tidak menjawab persoalan konflik Islam-Kristen di Ambon. Belanda melalui Studenet-nya cukup banyak memiliki beasiswa untuk program-program pendek yang dapat dirancang sendiri. Walaupun ke Belanda juga harus tetap memiliki bahasa inggris minimal.

7. Dari berbagai Negara, Perancis, Jepang, Jerman, negara Skandinavia (seperti Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia), keberhasilan studi di negara-negara yang bukan berbahasa inggris adalah kemampuan kita untuk secara cepat belajar bahasa setempat. Seperti di Jepang, kalau kita belajar social sciences, perpustakaan yang ada dalam bahasa Jepang semua. Tentu saja mereka juga punya bahasa inggris. Kecuali bagi mereka yang belajar science dan technology. Demikian pula di Jerman, adik saya yang katanya sebelum berangkat dikatakan 50% akan menggunakan bahasa inggris, pada prakteknya 75% bahasa Jerman. Silahkan teman-teman yang lulusan dari negara tersebut berbagi pengalamannya. saya sendiri pernah ke Jepang ke Hosei University hanya untuk program pendek saja.

8. Dari negara-negara Timur Tengah, saya tidak terlalu tahu, kecuali saya pernah berbicara dengan kedutaan Iran untuk memberikan beasiswa untuk mempelajari politik Iran. Sayang belum sempat saya lanjutkan pembicaraan tersebut.

9. Beasiswa dari lembaga-lembaga dalam negeri, dulu ada OTO Bapenas (loan sifatnya, tapi negara yang membayar). Saya pernah untuk beberapa tahun terlibat untuk menentukan beasiswa dari Ford Foundation. OSI (Open Society Institute) juga memberikan beasiswa untuk Master ke Budapest (Central European University) dsb.

10. Masih ingat beasiswa BPPT dari sejak Lulus SMA? itu sifatnya hutang atau loan. Negara memang yang membayar bukan penerima beasiswa. Ke mana lulusannya? Menurut saya mustinya lulusan beasiswa tersebut harus dapat melakukan kerja dengan disebar ke kabupaten/kota, dan negara memberi insentif dan program untuk teknologi terapan. Bisa anda bayangkan para insinyur lulusan luar negeri membangun teknologi di kabupaten/kota di Indonesia? Dengan demikian kabupaten/kota se Indonesia akan berkembang.
Daripada di kantor BPPT dan di Bandung (perusahaan pesawat terbang yang selalu demo terus-menerus). Tidak tahu bagaimana pemerintah menyelesaikan masalah tersebut? Kenapa tidak ditawarkan ke daerah-daerah saja? Kasihan Pak Habibie terpaksa harus mencarikan kerja bagi mereka di Jerman, Perancis atau Belanda? Padahal mereka dibayar oleh uang rakyat Indonesia, bukan?

Salam,
Chusnul Mar’iyah
http://www.chusnulmariyah.or.id

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

One response »

  1. Azas Tigor Nainggolan mengatakan:

    Ok, pak Marwan, tidak apa-apa. Tolong nanti kita rapat berikutnya langsung selesaikan penyusunan program JAMPI. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s