Chusnul Mar’iyah cukup terkenal di Indonesia sebagai anggota tim KPU dan aktivis kesetaraan hak wanita yang sangat vokal. Salah satu hal yang mungkin jarang diketahui orang adalah fakta bahwa sejak SPG (Sekolah Pendidikan Guru) ternyata beliau selalu berhasil mendapatkan beasiswa, sampai tuntas selesai program S3 nya.


http://www.chusnulmariyah.or.id

Chusnul melalui situs pribadinya bermurah hati berbagi informasi & tips-tips meraih beasiswa yang disebar di milis internal ISNET. :
Beberapa kutipan yang menarik :

Saya baru melihat ada ketidakadilan dalam proses transparansi beasiswa. Saya memiliki teman yang kaya-raya mendapatkan beasiswa dari Toyota Foundations yang sebulannya mendapatkan 50 ribu rupiah (bandingkan dengan beasiswa dari Diknas yang 9 ribu rupiah saja). Biaya tinggal di Wismarini (asrama UI) hanya 3 (tiga) ribu rupiah. Saya langsung protes ke PD III, agar beasiswa harus diumumkan jauh hari ke mahasiswa.

Kemampuan untuk membuat proposal yang akan dinilai. Apakah topiknya seksi atau tidak? Contoh, akan mudah mendapatkan beasiswa kalau anda mengambil topik tentang politik Papua, Timor Timur atau Aceh. Bagi anda yang lulusan IAIN sekarang sedang seksi sekali karena Islam dianggap sumber “teroris” so, mereka akan memberikan beasiswa untuk topik-2 politik Islam. Itu analisa saya. There is no such thing like free lunch. Beasiswa juga demikian. Penerima beasiswa harus percaya diri, jangan kemudian lupa kepada akar dan bangsanya sendiri.

Apalagi sekarang, baik AUSAID maupun USAID kelihatannya sangat senang untuk memberikan beasiswa dari IAIN atau kelompok Islam. Belajar, bahasa Inggris yang pas-pasan itu, kalau dengan orang Indonesia ya bahasa Inggrisnya tidak maju-maju. (Ed — ini betul sekali — banyak mahasiswa Indonesia yang bertahun / berpuluh tahun di luar negeri, tapi b.Inggrisnya tetap amburadul karena pergaulannya terlalu intens **hanya** dengan sesama warga Indonesia. Seharusnya pada awalnya mereka lebih banyak bergaul dengan b.Inggris dulu)

Beasiswa untuk program jangka pendek sangat banyak sekali. Silahkan rajin-rajin mengikuti program pendek tersebut.

Berikut ini adalah artikel selengkapnya.
Chusnul Mariyah wrote:

Dari beberapa diskusi ada beberapa pertanyaan tentang beasiswa. Saya ingin membagi pengalaman menjemput beasiswa. Paling tidak sejak SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sampai mengambil pendidikan Ph.D saya selalu mendapatkan beasiswa.

1. Pada saat SPG (setingkat SMA) saya menerima beasiswa selama 2 tahun terakhir. Kualifikasi mudah sekali selama kita bisa menunjukkan ranking 1 sampai 3, kita mendapatkan beasiswa. Ada juga scheme beasiswa untuk orang miskin.

2. Pada saat pendidikan Sarjana di FISIP UI, saya menerima beasiswa dari Diknas sejak tingkat 2, setelah tentu saja kita menunjukkan prestasi akademik.

3. Pada saat saya menjadi anggota Senat Mahasiswa FISIP UI, dengan Ketua Senat sdr. Imam Prasodjo, kebetulan saya memegang posisi ketua bidang pendidikan. Saya baru melihat ada ketidakadilan dalam proses transparansi beasiswa. Saya memiliki teman yang kaya-raya mendapatkan beasiswa dari Toyota Foundations yang sebulannya mendapatkan 50 ribu rupiah (bandingkan dengan beasiswa dari Diknas yang 9 ribu rupiah saja). Biaya tinggal di Wismarini (asrama UI) hanya 3 (tiga) ribu rupiah. Saya langsung protes ke PD III, agar beasiswa harus diumumkan jauh hari ke mahasiswa. Akhirnya saya dapat pindah beasiswa ke Toyota Foundation.

Maka saya sangat kaya saat menjadi mahasiswa waktu itu. Penguasa, termasuk di universitas, biasanya tidak memberikan informasi jauh hari kepada mahasiswa. seringkali tinggal beberapa hari, sehingga kita tidak dapat mengurus beasiswa tersebut karena sudah ditutup.

4. Pada saat yang sama saat di SM FISIP UI, saya juga menjadi Sekretaris Komisariat HMI FISIP UI. Saya melihat bahwa banyak anggota HMI ternyata miskin-miskin. Bersamaan dengan program SM FISIP UI, saya yang miskin dan sudah dapat beasiswa, saya panggil orang-orang miskin tsb dan membuat strategi untuk mendapatkan beasiswa. Belajar diperbaiki, kualifikasi akademik diperbaiki. Alhamdulillah kita yang miskin-miskin akhirnya menjadi pinter-pinter dan mendapatkan beasiswa.

5. Pada saat selesai kuliah saya ingin ke luar negeri. Posisi Sekretaris Jurusan Ilmu Politik FISIP UI saya manfaatkan untuk membangun relasi dengan berbagai lembaga beasiswa. Saat itu juga saya memiliki teman anak Menteri Pendidikan. Saya bilang bahwa saya membutuhkan beasiswa. Dia mau bantu, tapi saya menolaknya. Saya katakan kalau 3 kali saya menjemput beasiswa dan gagal barulah saya akan meminta katabelece dari teman yang anak Menteri Pendidikan tsb.

6. saya mendapatkan beasiswa dari Australia Indonesia Institute untuk mengambil MPhil Houners Degree di Sydney University. AII ini sebetulnya tidak tertarik untuk memberikan program beasiswa yang lama (2 tahun).
Program AII menurut saya hanya untuk mendapatkan nama di media sehingga programnya lebih berupa short visit, seperti memberi beasiswa kepada Christine Hakim, Gunawan Muhammad dkk mereka. Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa tersebut selama 2 tahun dan itu satu-satunya program AII sampai saat ini.

7. Saya menyadari kebencian saya terhadap bahasa Inggris, karena dari SPG Lamongan, kuliah di FISIP UI, teman-teman saya kalau dilihat tempat lahirnya, London, Washington, Manila, Maroko, Amsterdam. Nah, sebagai orang ndeso Babat tembak langsung ke Jakarta, sebel juga saya dengan Bahasa Inggris, walau di mata kuliah Bahasa Inggris tetap mendapat angka 8 (delapan). Sangat disadari bahasa inggris yang pas-pasan tersebut.
Alhamdulillah saya lumayan IELTS nya. Setelah 5 bulan benar-benar konsentrasi belajar bahasa Inggris, meninggalkan aktivitas LSM dan lain-2nya. Untuk dapat masuk di Sydney University paling tidak harus 7,5 IELTS yang harus didapatkan. Saya termasuk yang tidak mendapatkan 7,5, saya lupa mungkin hanya 6,5 IELTS tapi tetap dapat masuk di Sydney University (the first university in Australia).

8. Satu tahun di program Department of Government (Politics), saya ditawari untuk upgrade ke Ph.D Program yang kebetulan ketua Departemen-nya Prof. Michael Leigh adalah ahli Asia Tenggara (Malaysia) istrinya ahli Aceh. Saya tinggal dengan keluarga tersebut. Supervisor saya tidak mengerti Indonesia, karenanya saya menulis tentang Urban Politics in Australia. Secara administrasi saya tidak mendapatkan surat dari Dikti. Saya sudah menunggu setiap hari selama 2 minggu tapi Dikti tidak memberikannya. Saya bilang ya sudah, langsung ke Kedutaan Australia, saya katakan masalah saya, dan langsung dibuatkan surat. Saya mendapatkan tambahan 5 tahun beasiswa dari AUSAID. Saya tidak memiliki degree Master tapi langsung mendapatkan Ph.D walau pada awalnya bahasa inggris pas-pasan.

9. bagaimana dapat terus-menerus berhasil mendapatkan beasiswa?

Disambung di tulisan ke dua.

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

4 responses »

  1. fache mengatakan:

    Thanks alot deh infonya…!!

  2. devita mengatakan:

    Ibu, aq jg mau dptin beasiswa gmn caranya? Secara klo kuliah sndiri pasti gak sanggup byar, tp aq pengen skali kuliah..
    Trims

  3. rojikin mengatakan:

    bu khusnul, dulu ibu dapat beasiswa sejak spg, sekarang ibu bisa gak ngasih beasiswa secara pribadi. saya guru sd swasta lulusan ikip negeri, sangat ingin ambil s2 untuk meningkatkan kompetensi…. bisa ? makasih jazakallah

  4. musta`ana mengatakan:

    Assalamu`alikum wr wb
    Bu Chusnul yang baik..terimakasih sebelumnya atas informasi yang diberikan, sungguh saya sangat kagum dan tertarik dengan informasi yang ibu bagikan kepada kami. informasi ini sangat berarti bagi saya yang baru mengetahuinya.

    Ibu,saya lulusan S1 FISIP jurusan administrasi negara sebuah perguruan tinggi swasta di Bojonegoro(saya anggota Solidaritas Perempuan dan mantan ketua Badan Eksekutif komunitas Solidaritas Perempuan Bojonegoro),saya ingin melanjutkan studi S2 dengan bantuan beasiswa. pertanyaan saya bagaimana bu strategi untuk mempersiapkannya shg saya bisa memperoleh beasiswa seperti yang ibu ceritakan?,dan dapatkah saya memperoleh informasi lembaga-lembaga donatur pemberi beasiswa baik dari dalam maupun luar negeri..?..
    Atas informasinya saya sampikan terimakasih yang tak terhingga….

    Wassalam

    Musta`ana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s