Suku Makassar salah satu suku bangsa yang mobilitasnya sangat tinggi. Di setiap kota, seperti di Alor Kecil, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, bahkan di sejumlah negara, ada komunitas Makassar atau perkampungan Makassar.

Latar belakang merantau (sompe’) dan bermigrasi (malleke’ dapureng) bukan karena kelaparan, dapur tidak lagi berasap, tidak ada pekerjaan, daerah asalnya tandus kering, tetapi kebutuhan akan kebebasan. Kebebasan dalam bekerja (berdagang, bertani atau jadi nelayan), kebebasan dari gangguan keamanan, kebebasan diri dari situasi yang mencekam dan sebagainya. Singkatnya, untuk mencari ketenangan hidup dan mencapai kehidupan yang sejahtera.

Demikian diungkapkan peneliti pada Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PMB-LIPI), Jakarta, Abdul Rachman Patji, pada seminar internasional Peranan Bugis dalam Pengembangan Alam Melayu Raya, Selasa (10/6) di Jakarta seperti dilansir Kompas.

Abdul Rachman menjelaskan, orang Bugis-Makassar merantau bermakna kesediaan untuk berubah dan mengikuti perubahan. Perubahan untuk menyesuaikan diri mengandung faktor pengorbanan dan perjuangan, pemberian dan perolehan, karena hanya dengan begitu bisa diterima dalam kehidupan lingkungan sosial yang baru.

Strategi seperti itulah yang juga dipegang oleh para migran Makassar di Alor Kecil pada abad XVII. Seringkali di daerah atau negeri tertentu yang belum atau masih kurang penduduknya, faktor-faktor itu perlu dilengkapi dengan satu faktor lagi, yaitu sikap kepeloporan yang disesuaikan dengan negeri rantau tempat berdomisili.

“Pada masa lalu, banyak terjadi para migram dari Sulawesi Selatan justru membuka sendiri pemukimannya, seperti di Linggi, Johor, Malaysia, di Mempawah Kalimantan Barat, di Pulau Laut Kalimantan Selatan, di Pulau Serangan, Bali. Dari sini akan tumbuh dan berkembang kampung dan komunitas Bugis, Makassar atau Mandar di beberapa daerah di Nusantara,” katanya.

Namun amat disayangkan, orang Makassar di Alor Kecil saat ini, sebagai generasi ke-5, memang tidak lagi akrab dengan berbagai nilai-nilai sosial budaya yang utama dari masyarakat leluhurnya. Kondisi ini disebabkan pengetahuan mereka sangat terbatas mengenai siri’ dan pesse’ (pedoman hidup bagi orang Bugis-Makassar untuk menjalani hidup dan kehidupan), tetapi sebenarnya maknanya telah mereka amalkan dalam bentuk menjaga martabat dan harga diri.

Bahasa daerah masing-masing suku (Bugis, Makassar, dan Mandar), ungkap Abdul Rachman, juga telah hilang dalam kehidupan mereka sejak generasi ke-4. Kini, mereka menelusuri dan mencatat garis keturunan (silsilah), memang tidak lagi menggunakan aksara Lontara, tetapi dalam bahasa Indonesia yang asal usulnya dari bahasa Melayu.

“Oleh karena itu, studi tentang migran Bugis-Makassar di berbagai daerah dan negeri, dari masa lalu sampai kini, sesungguhnya juga berarti merekonstruksi kembali sebagian pilar-pilar peradaban (tamadun) Melayu yang tersebar di mana-mana, di Nusantara, di seluruh dunia,” paparnya. (Kompas).

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

2 responses »

  1. cikalie mengatakan:

    Merantau………:D
    jadi rindu sama buih di lautan

  2. SOFOXINIGODUS mengatakan:

    Premium post, great looking website, added it to my favs.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s