JAKARTA, menjelang 5 Februari 1997.

Bersama dua orang fungsionaris PB HMI, saya mengantar surat undangan Peringatan 50 Tahun HMI (Hari Ulang Tahun Emas), yang akan dihadiri oleh Presiden Soeharto. Waktu itu Ketua Umum PB HMI Taufiq Hidayat. Saya sendiri hanya ketua bakornas LAPMI.

Sampai di rumahnya, kami ingin sekali bertemu dengan beliau. Maklum Pak Deliar itu orangtua, tokoh legendaris, yang jarang muncul di acara-acara HMI pada tahun-tahun itu. Apakah Pak Deliar tidak bersedia menemui PB HMI itu mitos atau realitas, akan kami buktikan saat itu. Kami tiba dan, seseorang menanyakan apa keperluan bertemu Pak Deliar, dan kami menyampaikan maksud. Kemudian kami disuruh
menunggu. Lama. Kemudian orang itu datang lagi, dan mengatakan Pak Deliar tidak berkenan menemui PB HMI, Pak Deliar kecewa dengan HMI.

Undangan kami tinggal, dan kami mendapat isyarat, Pak Deliar dipastikan tidak akan menghadiri undangan kami. Saya pikir, Pak Deliar sudah sangat kecewa dengan HMI, dan konsisten sekali. Bukan kecewa pada anak-anak HMI, tetapi setelah saya konfirmasi ke beberapa narasumber Pak Deliar kecewa pada kebijakan HMI sebagai lembaga.

Orang yang menemui kami mengatakan, sebaiknya kalau mau ketemu Pak Deliar jangan mengatasnamakan PB HMI. Dengan “kecewa” setelah menunggu lama, kami pamit. Dan ketika kami meninggalkan rumahnya,
saya melihat Pak Deliar memandangi kami di jendela. Pak Deliar bukan tidak cinta pada anak-anak HMI, tetapi Pak Deliar ingin menunjukkan “konsistensinya” , bahwa ia tidak suka “PB HMI”.

Kebijakan PB HMI memang banyak “kontroversi” . Cak Nur mengatakan 50 Tahun HMI bukan Ulang Tahun Emas, tapi “besi karatan”. Sedih juga saya, mengapa Cak Nur sampai begitu. Saya lapor ke Anas Urbaningrum
“Kenapa cak Nur sampai bilang “besi karatan”…. ?” Apa cak Nur sudah tidak cinta lagi sama kita. Tidak. Saya kira Cak Nur sangat cinta pada HMI, justru ketika dia mengatakan “bubarkan saja HMI…”

Artikel-artikel 50 tahun HMI juga banyak yang bernada sinis. Pada acara KAHMI di Jatim, Cak Nur kecewa dengan pernyataan Jenderal R Hartono, bahwa kantor PB HMI tidak hanya di Diponegoro, tetapi juga
di lokasi dimana ia berkantor –karena ketua umumnya disebut sangat akrab dengannya.

“Kedekatan” dengan Pemerintah Orba itulah yang dikritisi oleh Cak Nur dan Pak Deliar di antaranya. Aliansi HMI dengan Kelompok Cpiayung juga retak. HMI “terpojok sendirian”. Itulah kenangan, HMI di
sepenggal ujung senjakala Orde Baru.

Sejak tidak ditemui Pak Deliar, saya ingin sekali suatu ketika dapat berjumpa dengan sosok yang tulisannya sudah saya baca sejak SD di majalah panji Masyarakat ini… Tapi Pak Deliar keburu wafat.

Al Fatihah untuk almarhum.
Juga untuk Mas Sumarno Dipodisastro, kolega di GERAKAN JALAN LURUS (GJL) yang dipimpin Mas sulastomo. Di GJL, saya yang paling muda. Di hari-hari terakhir sebelum Mas Marno wafat, saya ketemu beberapa kali
di Jakarta. Dan kalau ketemu biasanya, ngobrol panjang. Tapi ujung-ujungnya dia berkata, antara lain begini: “Alfan, saya yang tua-tua ini, sesungguhnya sudah tidak pantas lagi memberi nasehat kamu yang muda-muda… Yang tua-tua mestinya menyerahkan saja segala urusan pada yang muda-muda, toh masa depan bukan lagi milik saya, melainkan milik kamu yang muda-muda”.(M ALFAN ALFIAN/Milis KAHMI)

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

One response »

  1. Andriaty Sumarno mengatakan:

    Sebagai putri nmr3 almarhum Bp.Drs.H.R.Sumarno Dipodisastro saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas do’a nya. Mohon dimaafkan salah dan khilaf almarhum apabila ada.Semoga Tuhan akan mlipatgandakan amalan yang mendoakan(amien)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s