Erabaru News – Sejumlah penghargaan diberikan kepada para jurnalis yang memiliki dedikasi dan integritas dalam mewujudkan kebebasan pers nasional. Tasrif Award diraih wartawati harian Kompas Vincentia Hanni
Sulistyaningtyas (kanan) dan Jaringan Radio Komunikasi Indonesia yang diwakili Bowo Usodo. Penghargaan juga diberikan kepada wartawan Tempo Metta Dharmasaputra, dan mantan anggota Dewan Pers Atmakusumah.

Pemberian award tersebut merupakan puncak dari acara peringatan hari ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia yang ke-14 di Jakarta pada Selasa malam (26/8). Acara yang dihadiri Wapres Jusuf Kalla, sejumlah tokoh pers dan aktivis LSM ini berlangsung sangat meriah diselingi dengan
pidato kebebasan berekspresi yang dibawakan oleh sutradara muda, Riri Reza dan hiburan yang disajikan oleh kelompok musik Slank.

Dalam sambutan acara yang bertajuk ”Solidaritas Untuk Kebebasan Pers di Asia” ini, Ketua Umum AJI Heru Hendratmoko mengingatkan akan bahaya yang mengancam kebebasan pers. Menurutnya, kebebasan pers akan kembali direngut dan peradaban demokrasi akan terancam jika masyarakat sipil tidak peduli
lagi dengan capaian reformasi.

“Tak hanya menjalin solidaritas dengan kelompok-kelompok masyarakat sipil di dalam negeri, tapi kita juga perlu menengok saudara-saudara kita di luar. Sebagian besar Negara-negara di Asia masih mengalami problem serius dengan demokrasinya. Kita perlu belajar, tertama agar kita tak mengalami nasib lebih buruk dibanding mereka,” ujar Heru dalam pidato tertulis.

Penegasan Heru relevan dengan tema seminar regional ”Solidarity for Asian Press Freedom” pada siang hari sebelum acara peringatan HUT AJI. Solidaritas jurnalis dari luar terhadap koleganya dianggap bisa membantu perbaikan kebebasan pers di Asia. “Kritik dari dalam di sebuah negara memang bisa berisiko. Solidaritas dari luar diharapkan bisa membantu adanya perubahan,” kata anggota Dewan Pers, Bambang Harymurti.

Menurut Harymurti, situasi kebebasan pers di negara-negara Asia memang sangat beragam. Berdasarkan survei Freedom House, sebagian berada dalam kondisi tak bebas, sebagian lagi bebas. Masalah yang dihadapi tiap negara juga berbeda-beda. “Ini merupakan tantangan tersendiri untuk menggalang
solidaritas di kawasan ini,” kata dia.

Senada dengan itu, Atmakusuma, penerima Press Freedom Award 2008 menyoroti kondisi pers di China. ”Meski ekonomi China berkembang dengan pesat, tapi selama tidak ada kebebasan pers di negeri itu, bangsa itu tidak akan bisa maju,” ujar tokoh pers nasional ini.
(Erabaru)

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s