JokerRabu pagi (4/2/2009)  Joker Jupugau yang sehari-harinya mengenakan koteka, pakaian khas warga pengunungan tengah Papua masih menyempatkan dirinya mampir ke Timika Golden Hotel di SP 2 Kota Timika. Namun dua hari kemudian pria koteka ini hidupnya berakhir dengan tragis.

Catatan : Marwan Azis *

Kedatangan Joker ke Golden Hotel, tempat saya menginap selama penelitian media di Timika bersama Tanta P Scober dan Mesak Ullo, merupakan kesempatan langka dan unik apalagi sebelumnya saya bersama Lia Palupi sempat gagal berburu manusia Koteka di bundaran Abepura Jayapura Desember 2008 lalu, karena target (baca manusia koteka) tak mau difoto. Karenanya saya tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk berfoto bareng dengan Joker, yang saat itu menggunakan koteka yang membungkus “terpedonya”, sementara buah sakarnya berwarna coklat kehitaman terlihat mengantung di bawa pusaran koteka.  Kulitnya hitam mengkilat, lekukan wajahnya keras, hidungnya besar dan mancung yang dicat warna hitam. Sekilas bibirnya yang dipadukan dengan sorot matanya yang tajam menampakan dia seorang panglima perang.

Lelaki brewok itu juga melengkapi dirinya dengan peralatan perang berupa panah dan tombak. Meskipun terlihat sangar, namun Joker juga murah senyum apalagi kalau kita sudah akrab dengannya. Joker juga mengenakan ikat kepala berwarna merah yang dipadukan dengan kain berwarna kuning dan kalung yang terbuat dari tali berwarna merah dan putih. Tak ketinggalan Joker juga menggunakan noken, tas khas Papua yang terbuat dari kulit kayu geneman.

Pada bagian lengan kanan Joker terlihat puluhan lembar daun kamboja dikat rapat. Daun kamboja biasanya ditemui di sekitar kuburan tak heran kalau daun itu juga dikenal sebagai daun kematian. Atas bantuan loby salah seorang karyawan hotel, saya akhirnya bisa foto bareng dengan si manusia koteka dari Nabire, salah satu kabupaten di masuk dalam wilayah penggunungan tengah Papua.

Sementara Tanta Pranacitra Scober (rekan peneliti LP3ES-Jakarta) bertindak sebagai fotografer, kebetulan ia memiliki kamera SLR. Salah seorang tamu hotel juga ikut berfoto dengan Joker.

joker dan sayaNamun siapa sangka dua hari kemudian, pagi hari usai mandi saya dikabari oleh karyawan hotel yang menginformasikan Joker ditemukan tewas di Jalan Bougenville, Timika pada malam Jumat (6/2). Berita duka itu tentu sangat mengejutkan bagi kami dan karyawan hotel Golden Timika. Menurut Wakapolres Timika, Kompol Jeremias seperti dikutip Radar Timika (9/2), berdasarkan hasil otopsi pada bagian limpa almarhum Joker pecah, diduga Joker meninggal karena dianiaya.

Penyebabnya terhadap korban, kata Wakapolres Rontini, sesuai informasi yang diperolehnya berawal dari aksi pelemparan terhadap rumah milik AK oleh oknum warga yang hingga kini belum diketahui indentitasnya.”Kita belum tahu siapa yang lempar rumah, tapi saat itu korban (Joker) berada di lokasi kejadian. Tidak tahu ceritanya bagaimana (mungkin) dikira korban yang lempar rumah milik pemilik bengkel,”paparnya pada Radar Timika.

Mendengar berita duka saya hanya bisa berucap Inna lilla wa inna Ilairajium. Saya tak menyangka kalau Joker secepat itu berpulang menghadap Sang Pencipta. Dua hari lalu saya masih sempat bincang-bincang dengan almarhum Joker di pelataran hotel Timika Golden Hotel usai berfoto, salah seorang karyawan hotel juga ikut nimbrung dalam perbincangan itu.

Yang teringat jelas bagi saya, ia berkali-kali menyebutkan namanya pada saya,”Namanya saya gampang diingat, kalau main joker pasti ingat saya, karena nama saya Joker,”kata Joker saat memperkenalkan diri. Meskipun Joker sudah tak tinggal di pedalaman Papua, namun ia tetap setia mengenakan koteka termasuk ketika dia mengayu becak. Bahkan Joker telah menjadi aikon model koteka bagi tamu Timika Golden Hotel.

Cukup dengan membayar 25 ribu rupiah tamu hotel sudah bisa berfoto bareng dengan Joker. Sayangnya kini Joker sudah berada di alam lain, dan pengambilan foto pada tanggal 4 Februari 2009 lalu menjadi foto terakhir si manusia koteka yang hobby merokok itu. Selamat Jalan Joker.***

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

3 responses »

  1. deatey mengatakan:

    Sangat mengharukan kematian misterius kepala suku Moni ini.
    Dan anda adalah orang yang paling berbahagia karena dapat berfoto dengan dia
    kiranya pihak yang berwajib segera meringkus pelaku ke pengadilan agar duka yang mendalam dalam diri suku moni serta perasaan ditindas atau dibasmi yang ada dalam diri masyarakat pribumi tanah Papua khususnya Mimika dapat menjadi sembuh

  2. marwanazis mengatakan:

    Ya betul sekali, walaupun pertemuannya cukup singkat, namun sangat berkesan.
    Thanks, sudah mampir ke blog saya.

  3. suardi bc mengatakan:

    turut sedih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s