Bumi Papua tak hanya menawarkan budaya yang masih asli bagi para wisatawan. Sebagian alamnya yang nyaris masih perawan pun menjadi daya tarik tersendiri.

Dalam perjalanan dari kota Jayapura menuju Abepura sempatkan berhenti di tempat peristirahatan di Jalan Skyline yang berlokasi tepat di perbatasan kota. Di sepanjang jalan tersebut, lepaskan pandangan untuk melihat-lihat luasnya lautan dan gugusan kepulauan yang berada di antara birunya laut. Pesona lautnya berwarna biru dan air terlihat tenang memberikan sebuah keindahan yang bisa membuat siapa saja yang memandanginya tak akan pernah melupakannya.

Di sebelah kanan jalan ini terbentang Gunung Vim yang menghijau. Gunung Vim ini memiliki keragaman hayati yang masih terjaga keutuhannya, seperti cemara papua, buah matoa, dan kera ekor panjang. Di kaki gunung ini juga terlihat sisa peninggalan Perang Dunia kedua berupa kapal perang Jepang yang karam di pesisir pantai dekat Gunung Vim.

Di sebelah Teluk Yotefa juga terdapat sebuah pulau yang besar yang tak lain adalah bagian dari tetangga Indonesia di bagian timur, Papua Nugini. Teluk ini memiliki dua kampung bernama Tobati dan Enggros yang masih termasuk dalam distrik Kota Jayapura Selatan. Hanya sekitar 100 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami kedua kampung tersebut.

Kedua warga masyarakat kampung ini akan lebih senang dipanggil sebagai orang Enggros. Kata Enggros adalah gabungan dari dua kata, yaitu Engg yang artinya tempat dan Ros, artinya Dua. Baik warga Enggros maupun Tobati memaknai Enggros sebagai kampung yang kedua.

Orang Enggros meyakini, nenek moyangnya berasal dari Gunung Mer. Gunung Mer sendiri berada di hadapan Kampung Enggros yang masih dalam kawasan Teluk Yotefa. Keunikan Yotefa adalah sebuah teluk yang berada di dalam kawasan Teluk Humbolboy. Menjadi menarik memang pemandangannya karena ada teluk di dalam teluk.

Akibat Langgar Adat

Menurut penuturan salah seorang tokoh masyarakat Papua Marthen Drunyl, pada awalnya seluruh Teluk Yotefa merupakan daratan dengan hutan rimba. Di tempat ini hanya ada kolam kecil dan aliran air yang bersumber dari mata air Pulau Msumo (yang sekarang menjadi tempat pemakaman masyarakat Tobati) serta satu lagi kolam kecil yang terletak di pinggiran Kampung Enggros.

Marthen Drunyl, menambahkan, daratan yang indah dan tenang itu kemudian menjadi porak-poranda akibat kesalahan manusia. Daratan ini dihantam ombak yang menyerupai dua hantu dengan air laut. Begitu besarnya air laut yang menyapu daratan ini sehingga terbentuklah pulau-pulau, seperti Pulau Debi, Pulau Msumo, Pulau Hamadi, Kayu Pulo, Kayu Batu, Pulau Holtekam hingga ke Pulau Vanimo di Papua Nugini.

Hantam air laut tersebut dipercaya merupakan kemarahan leluhur karena ada yang melanggar hukum adat. Nenek moyang mereka Mer, yang memiliki 12 orang anak, salah satunya adalah perempuan. Satu dari 11 anak laki-laki tersebut melanggar hukum adat masyarakat setempat, yaitu mengawini adik perempuannya sendiri. Akibat dari perbuatan ini, sang kakak dan adik diusir dari Enggros. Mereka kemudian menempati daerah di pinggiran Danau Sentani yang bernama Yobe.

Peristiwa tersebut, tambah Marthen, menyebabkan orang Enggros terpencar kebeberapa daerah dan mendiami tempat-tempat seperti seperti di Yobe, Asei, Tablasupa, dan Kayu Batu hingga sekarang.

Pilihan Untuk Wisata

Terlepas dari cerita tersebut, pada bulan-bulan tertentu (Juni—September) di teluk ini sering terjadi air laut surut. Sehingga di sekitar Kampung Tobati dan Enggros terbentang hamparan pasir yang berwarna cokelat.

Saat air surut, warga banyak memanfaatkan daratan jadian itu sebagai tempat bermain bola, voli, lomba layang-layang, dan sebagainya. Mengunjungi Kampung Tobati di kawasan Yotefa memang sulit untuk dilupakan. Suasana tenang dan sambutan hangat warga membuat terasa menyenangkan.

Jika saat berkunjung pada saat air pasang pun suasana tetap indah dan menyenangkan karena pengunjung yang datang bisa berekreasi sambil melihat dan berjalan ke perumahan di atas air. “Hei… Ko mo Kemana kah ade nona…mari sini sa antar ko,” seruan ini akan selalu menyambut setiap pengunjung yang datang.

Bagi yang ingin menghabiskan waktu liburan di sekitar Jayapura, Enggros dan Tobati kiranya bisa menjadi pilihan yang tepat. Anda bisa menumpang perahu motor dari Dermaga Pasar Yotefa untuk sampai di Enggros. Waktu yang dibutuhkan hingga ke tujuan hanya sekitar 15 menit dengan biaya Rp10.000, tak perlu repot-repot bawa makanan. Kita tinggal memesan ikan apa saja, warga Enggros akan menyediakannya. Tak hanya itu Anda juga dapat menikmati kelapa muda di pesisir kampung Enggros yang memiliki laut tenang dan membiru.(Marwan Azis/AGRINA)

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s