“Beberapa saat lagi, pesawat akan mendarat di Bandara Sentani Jayapura,”kata seorang pramugari cantik membuat saya terbangun dari tidur lelap selama 7 jam perjalanan dari Jakarta-Jayapura.
Dibalik awan tampak vegetasi hutan yang menghijau, biru langit Papua, panorama teluk Sentani juga terlihat jelas dari kaca jendela pesawat merpati yang kami tumpangi. “Luar biasa indahnya” ucapku saat pertama kali menginjak kaki di Bumi Cenderawasih.

Saya beruntung dipercaya menjadi fasilitator. Tugas penelitian konflik berbasis surat kabar akhirnya membawa saya ke bumi Papua. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa provinsi antara lain Aceh, Papua, Maluku, Maluku Utara dan Sulawesi Tengah.

Semula meminta saya meniti konflik di Aceh, namun belakangan saya memilih Papua, karena kelihatanya lebih menantang.

Menyenangkan. Papua tak hanya bisa saya saksikan di layar kaca dan pemberitaan di koran-koran. Papua dikenal sebagai bumi yang hilang dan penuh misteri, namun kaya sumber daya alam yang menjadi bidikan banyak pihak pihak bahkan internasional, tak heran ini Papua ini menjadi areal konflik yang tak berkesudahan dan selalu mendapat perhatian Internasional.

Di Wikipedia, kata Papua berasal dari bahasa melayu yang berarti rambut keriting, sebuah gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku asli.

Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea.

Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, sehingga sering disebut sebagai Papua Barat terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), para nasionalis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada di bawah penguasaan Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.

Nama provinsi ini diganti menjadi Papua sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Pada 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini.

Dibalik konflik Papua yang hingga kini tak berkesudahan, tersembunyi keindahan alam Bumi Cenderawasih. Pesonanya membentang dari ketinggian hutan hingga kedalaman samudera Papua menawarkan sejuta kedamaian.

Bersama dua rekan peniliti lain, Lia Ratna Palupi Nasution dan Abdul Azis (LP3ES), kami mendarat di Papua pada tanggal 2 Desember 2008 sekitar pukul 16.00 WIT dengan menumpangi pesawat Merpati. Sehari setelah peringatan hari kemerdekaan Papua.

Alhamdulillah pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan mulus. Pertama sekali menginjakan kaki di tanah Papua, saya bersama Lia dan Azis mengabdikan keindahan Bandara Sentani dikelilingi hutan tropis yang masih tampak alami dengan menggunakan kamera digital.

Sejak mendarat di Sentani, kami mulai mencari surat kabar lokal sesuai arahan metodelogi riset yang kami pelajari, namun tak satupun koran lokal maupun nasional yang ditemui di Bandara. Setelah mengamankan barang-barang kami, Azis segera mencari mobil sewaan yang akan mengantar kami menuju ke kampus lama Universitas Cenderawasih (UNCEN) di Abepura.

Tak lama kemudian Azis menyampaikan, sudah mendapatkan mobil sewaan. Mobil kijang itu dikemudikan oleh Pak Ilyas, sopir asal Makassar yang sudah 20 tahun merantau dan menetap di Papua. Perjalanan kami dari Bandara Sentani menuju Abepura memerlukan waktu kurang lebih 30 menit.

Di tengah jalan kami berhenti sesaat di Danau Sentani. Setelah mengambil beberapa gambar, kami melanjutkan perjalanan menuju kampus UNCEN. Atas arahan dan petunjuk Pak John Rahel (Dosen UNCEN), kami akhirnya menginap di Wisma UNCEN selama penelitian konflik di Jayapura Papua.

Ada cerita menarik ketika ketemu dengan Komprok yang ditugasin Pak John Rahel menjemput kami di depan Gerbang UNCEN. Ia adalah alumnus UNCEN yang selama ini juga banyak membantu Pak John Rahel dalam berbagai kegiatan.

Saat berjumpa, saya sempat kaget karena gusinya tampak memerah. Saya menduga ia baru terlibat perkelahian atau mengalami musibah, namun meleset. Ternyata setelah berkenalan saya memberanikan diri menanyakan iklwal gusinya yang seperti berdarah, ia tertawa.

Menurutnya bukannya berdarah, tapi kegemarannya mengunya buah pinang. Makan pinang bagi warga Papua adalah telah menjadi kebiasaan hari-hari layaknya seperti mengunya permen. Jika disepanjang terlihat banyak ceceran seperti darah, jangan khawatir itu hanya ludah buangan para pengunya pinang……(Marwan Azis).

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s