Bentang alam Pulau Sulawesi terancam kelestariannya, karena ada rencana pemerintah membangun Terusan Sulawesi dengan cara memotong leher Pulau Sulawesi.

Ide tersebut muncul pada Musyawarah Sulawesi IV pada tanggal 15 Januari 2008 di Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), enam gubernur se-Sulawesi menggagas pembangunan Terusan Sulawesi, yang mereka namakan “Terusan Khatulistiwa” dengan dalih mendorong percepatan pembangunan di kawasan tersebut.

Bandjela Paliudju, Gubernur Sulawesi Tengah seperti dilansir Antara pada pertengahan Januari 2008, mengatakan pembangunan Terusan Khatulistiwa akan memotong daratan sekitar 30 kilometer di wilayah Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi-Moutong. Tujuannya adalah akan memperpendek jarak transportasi laut dari wilayah timur Pulau Sulawesi menuju wilayah barat Indonesia, serta ke Filipina dan Malaysia.

Bahkan, lanjut dia, terbuka peluang kalau Terusan Khatulistiwa, ke depan tidak hanya menjadi jalur lalu-lintas laut nasional yang ramai, tapi juga menjadi jalur internasional yang secara langsung memberi dampak pada pertumbuhan ekonomui wilayah Sulawesi.

Sementara Fadel Muhammad yang saat itu masih menjabat Gubernur Gorontalo mengatakan investor dari Singapura dan Korea telah diundang untuk menjajaki pembangunan Terusan Khatulistiwa tersebut. “Namun, sebelumnya akan disusun studi kelayakan melibatkan banyak pakar dari berbagai disiplin ilmu,” katanya.

Fadel menilai gagasan ini bukan sekadar mimpi yang sulit terwujud, sebab akan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan ekonomi daerah dan kawasan, bahkan nasional. “Kita lihat saja nanti. Tapi, saya optimis dengan dukungan segenap pemerintah dan masyarakat Sulawesi,” katanya seperti dilansir Antara.

Rencana itu mendapatkan penolakan dari penggiat lingkungan dan masyarakat di Indonesia, mereka tergabung dalam sebuah group facebook Batalkan Pembangunan Terusan Sulawesi (http://www.facebook.com/group.php?gid=317399397160&ref=mf). Group yang didirikan pada tanggal 12 Februari 2010 hingga berita ini telah berjumlah 349 anggota.

Mereka menilai pembangunan Terusan Sulawesi akan merusak ekosistem Sulawesi yang terkenal kaya akan keeneragaman hayati yang khas dan termasuk dalam Zona Wallacea.“Terusan Sulawesi akan merusak sistem arus laut dunia dan ekologi kawasan teluk Tomini dan Laut Sulawesi. Karena itu harus di Tolak,”tulis Fadly Y.Tantu dalam posting di group facebook Batalkan Pembangunan Terusan Sulawesi.

Hal senada juga disampaikan Roy Salam yang juga bergabung dalam group facebook tersebut. Menurutnya, pembangunan terusan Sulawesi sangat berbahaya untuk kelangsungan generasi dan keseimbangan alam Sulawesi. “Saudaraku warga Sulawesi, pembangunan terusan ini sangat berbahaya untuk kelangsungan generasi dan keseimbangan alam Sulawesi. Masih banyak sumberdaya alam lain yg bisa digali jika orientasinya ekonomi, tidak perlu dengan membuat terusan. Patut ditolak,”pesan Roy yang ditulis di laman group facebook Batalkan Pembangunan Terusan Sulawesi.

Selain itu, pembangunan terusan tersebut bila dikaitkan dengan fenomena pemanasan global, dimana muka air laut naik akan mempercepat tenggelamnya pulau-pulau di Sulawesi karenanya rencana tersebut harus dibatalkan. (Marwan Azis).

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s