Keterbatasan tak membuat sejumlah remaja Kapuk, Jakarta Barat,putus semangat, bahkan mereka yakin harapan masih ada. Inilah yang menjadi kekuatan Andri Wahyudin dan kawan-kawan menginiasiasi sebuah pondok, yang sekarang menjadi rumah belajar.

Berangkat dari niat untuk membangkitkan minat belajar dan membekali anak-anak dengan berbagai skil, mereka pun menyulap areal bekas pemakaman yang tergenang air menjadi taman baca, yang mereka namakan Rumah Belajar Apung.

Kelurahan yang dihuni 180 KK ini juluki Kampung Apung. Julukan tersebut tidak terlepas karena daerah ini selalu tergenang air dengan ketinggian 1,5 sampai 3 meter. Menurut Andri Wahyudin, Humas Rumah Belajar Apung, awalnya daerah ini merupakan dataran yang paling tinggi di Jakarta.

Namun maraknya pembangunan kota Jakarta yang tak terkendali, membuat ekologi Kapuk berubah dratis dari daratan tinggi menjadi daerah tergenang bahkan sudah layak disebut sebagai daerah rawa, karena sekalipun musim kemarau, daerah ini tetap tergenang air.

Daerah ini juga diperhadapkan dengan kondisi sosial remaja yang sangat memprihantikan terutama dari sisi pendidikan. Menurut Andri, daerah ini anak muda putus sekolah, rata-rata hanya bisa mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan hanya sedikit yang lulus SMA dan perguruan tinggi.

Kendala ekonomi menjadi persoalan klasik bagi orang tua sehingga banyak anak-anak terpaksa putus sekolah, apalagi saat ini biaya pendidikan kian melangit. Pergaulan bebas juga turut juga berpengaruh menurutnya minat belajar remaja.”Karenanya untuk membangkin kembali semangat belajar generasi muda disini, kita membuat taman baca,”kata Andri. Menurut Andri, gagasan pembangunan taman baca terapung ini awalnya digagas oleh remaja Mesjid Nurul Janna Jakarta Utara tahun 2004 lalu.

Belakangan inisiatif tersebut mendapatkan dukungan dari berbagai pihak terutama Yayasan Nurani Dunia yang berhasil mengajak sejumlah perusahaan dalam pembangunan jalan beton hingga pembangunan Taman Baca dan Rumah Belajar Apung.

Pada tahun 2009, PT XL Axiata juga mensupport beberapa unit komputer dan fasilitas internet gratis di Rumah Belajar Apung. Bantuan komputer dan internet ini bersumber dari program CSR XL Komputer Untuk Sekolah (KUS).

Pondok belajar ini terdiri atas dua bangunan yang saling berhadapan yang terletak di perkampung warga Kelurahan Kapuk, Jakarta Barat. Rumah Taman Baca dan Rumah Belajar Apung ini dilengkapi sejumlah alat pelampung di sekeliling bagian bawahnya yang berfungsi untuk mengapungkan seluruh bangunan, sehingga ketika air naik bangunan tidak terendam air.

Hingga saat ini, peserta didik Rumah Belajar Apung telah berjumlah 85 siswa. Yang terdiri atas SD (50 orang), SMP (15 orang) dan SMA Paket C (20 orang). ”Karena muridnya makin banyak. Akhirnya setiap siswa diwajibkan membayar uang kursus 20 ribu rupiah perbulan. Dari uang iuran itu, kita bisa membeli 2 unit komputer termasuk membantu operasional perawatan komputer,”kata Andri.

Rumah baca ini selain berfungsi sebagai taman baca, juga digunakan sebagai tempat kursus komputer, internet, bahasa inggris, belajar membaca Al Quran dan fotografi dan sejumlah kerajinan tangan. Proses belajar mengajar didukung 14 relawan.

Kehadiran rumah belajar ini mendapatkan tempat tersendiri dihati anak-anak dan remaja yang berdomisili di Kapuk, karena mereka selain bisa belajar berbagai keterampilan seperti komputer dan fotografi, mereka juga bisa memanfaatkan fasilitas internet secara gratis. ”Senang banget, sini banyak teman dan juga bisa main komputer dan internet,”kata Rohim, murid kelas 6 SD 14 Jakarta Utara.

Pondok belajar ini sangat berguna bagi masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah, karena sangat nyaman untuk berkumpul dan belajar bersama di tengah kawasan yang sudah terendam air secara permanen. ”Kami berharap, dari rumah belajar apung ini, akan lahir generasi muda yang memiliki keterampilan disejumlah bidang yang bisa bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan,”tandas Andri. Semoga tercapai (Marwan)***

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

6 responses »

  1. z4nx mengatakan:

    terharu..
    sukses andri ..
    sukses juga untuk yang nulis

  2. marwanazis mengatakan:

    Amin, terimakasih atas komentar dan doanya.

  3. zee mengatakan:

    suksess selalu ya…..
    ttep semangatttt………

  4. marwanazis mengatakan:

    Amiin. Terimakasih Mas, Sukses juga buat Anda

  5. okman mengatakan:

    Sebenarnya rumah apung hanyalah sebuah bangunan…tapi ruhnya terdapat di jiwa para relawan…dan smoga konsep2 seperti rumah belajar apung bukan hanya menjadi sebuah tontonan dan wacana agar mendapat sebuah salute ……..tapi juga dapat menjadi sebuah explorisasi dari kehidupan bersosialisasi dan bermasyarakat yang dapat dikuti oleh yang lain…atau syukur2 dapat lebih dikembangkan oleh yang lain……..yah kalo menurut konsep Alloh …………… jadilah Rahmatan Lil alamin…….that’s right ……. Brother

  6. nian mengatakan:

    maas saya mau nanya, bagaimana kehidupan di rumah apung? untuk kesehatan, apakah mereka sering terjangkit penyakit? makasih mas atas infonya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s