Cara terbaik untuk mengenal dan menyalami alam dan kehidupan masyarakat Indonesia lebih dekat adalah dengan melakukan perjalanan ekpedisi. Inilah yang dilakukan dua jurnalis freelance, Farid Gaban dan Ahmad Yunus.

Lewat Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa  yang dilakoni selama setahun, terhitung dari bulan Juni 2009 hingga Juni 2010. Dua jurnalis ini melewati perjalanan darat di Sumatera seluas 473.606 km² dan Kalimantan sekitar 539.460 km². Dan perjalanan darat dari Nusa Tenggara Timur hingga ke Jawa lagi. Sisanya, di Sulawesi, kepulauan Maluku, Raja Ampat hingga mencapai Merauke menggunakan kapal nelayan hingga kapal perintis yang menghubungkan pulau-pulau kecil.

Ekspedisi ini bertujuan untuk mendokumentasikan manusia dan kepulauan Indonesia. Ekspedisi ini menggunakan sepeda motor, kapal nelayan, ferry, kapal Pelni hingga kapal perintis yang menghubungkan pulau-pulau kecil di Indonesia.

“Selama perjalanan kami memilih memilih untuk tinggal di rumah warga, pasang tenda, warung makan sampai tidur di teras surau, mushola pinggir jalan dan juga numpang di kantor AJI kota disejumlah daerah. Melebur dengan warga biasa dan mendengar cerita mereka secara dekat,”kata Ahmad Yunus saat ditemui di AJI Jakarta.

“Kami memotret Sumatera bagian barat. Mendokumentasikan pulau terluar Indonesia. Merekam jejak Pagai Selatan, Mentawai sebelum luluh oleh tsunami kemarin. Menyaksikan rumah tua berusia 300 tahun di pulau Nias, mendengar nyanyian “Smong” di Simeulue hingga merenung di Indonesia kilometer nol di pulau Sabang,”tambahnya.

Dalam perjalanan mereka juga menembus perkebunan sawit dan melalui daerah tambang di Kalimantan. Menjadi saksi kehancuran hutan, kekeringan sungai Kapuas-salahsatu sungai terpanjang Indonesia- dan terlempar ke masa ratusan ribu tahun lalu di pulau Kakaban dengan berenang bersama ribuan ubur-ubur. “Kami berada di garda terdepan pulau terluar Indonesia. Pulau Laut di kepulauan Riau, Pulau Sebatik, di perbatasan Filiphina-Indonesia pulau Miangas, Merauke hingga Rote. Dan ini adalah rekaman perjalanan ekspedisi zamrud khatulistiwa,”tandasnya.

Perjalanan ini menghasilkan 10 ribu frame foto, 70 jam video dan ratusan catatan perjalanan. Dan selama satu tahun perjalanan ekspedisi ini melewati Nusantara. Dan luasnya sama dengan luas Eropa dari ujung barat sampai Asia Tengah.

Selama perjalanan, Farid Gaban dan Yunus memanfaatkan fasilitas multimedia seperti situs, facebook dan twitter untuk mempublikasi hasil perjalanan kepublik.  Sebagian hasil perjalanan mereka bisa dijumpai di situs www. www.zamrud-khatulistiwa.or.id.  Mungkin ini merupakan ekspedisi pertama di Indonesia yang memaksimalkan fasilitas social media.

Ekspedisi tersebut juga menghasilkan sejumlah buku, salah satu diantaranya yang kini sudah bisa dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang senang dengan dunia petualangan dan mau lebih banyak tentang alam dan manusia Indonesia adalah Buku “MERABA INDONESIA”, catatan ekspedisi “Gila” keliling Nusantara karya Ahmad Yunus juga dilengkapi bonus DVD Film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa.

“Buku ini mengajak kita untuk menyelami Indonesia dari dekat. Sebuah rekaman perjalanan yang menggugah hati”, begitulah komentar Imam B Prasodjo, sosiolog dari UI mengenai buku hasil ekpedisi Zamrud Khatulistiwa yang berjudul “Meraba Indonesia”.(Marwan Azis).

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s