Apa yang dilakukan Abdul Maal dan kawan-kawannya, patut diacungi jempol. Setelah malang melintang menjadi pelaku pembalakan liar atau illegal logging, warga Sulawesi Tenggara ini beralih menjadi aktivis community logging.

Sebuah aktivitas penebangan kayu legal yang berorientasi pada pemberdayaan komunitas sekitar.Perubahan prilaku yang terjadi pada Abdul Maal dan kawan-kawan itu adalah buah dari proses panjang.

Perlu waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan diri sendiri, dan memahami illegal logging sebagai tindakan yang keliru. Menyadari akibat dari aktivitas melanggar hukum itu, membawa dampak buruk bagi diri sendiri dan lingkungan. Apalagi, aktivitas itu sudah turun temurun dilakukan.

Beruntung mereka punya pendamping. Jaringan untuk Hutan (JAUH), NGO yang peduli pada kelestarian hutan, adalah salah satu pendampingnya. Namun tetap saja, prosesnya panjang dan berliku. Khususnya, mengubah perilaku perusak menjadi pelestari hutan. Belum lagi upaya menggeser aktivitas bisnis kayu illegal menjadi legal. Di sela-sela proses itu, godaan terus datang dari pihak yang selama ini mendapatkan manfaat dari aktivitas illegal logging itu. Seperti para penadah atau pengepul kayu misalnya.

Dengan pendekatan personal, JAUH bisa masuk lebih dari sekedar menjadi pendamping. Bahkan, interaksi itu memunculkan lembaga baru yang kurang lebih memiliki tujuan penyadaran atas dampat buruk illegal logging, sekaligus tempat usaha. Namanya, Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) yang dibentuk tahun 2003. Lembaga inilah yang menaungi aktivitas pengolahan kayu legal mereka.

” Kami tak memungkiri, sebagian dari pengurus dan anggota KHJL memang pernah terlibat dalam aktivitas illegal logging,” kata Abdul Maal, yang juga wakil ketuanya.

Membangun pasar

Program tata kelola hutan secara berkelompok di Sulawesi Tenggara ini adalah bentuk dari gerakan Social Forestry. Sedangkan tata hutan lestari baru dilakukan 2004 lalu, sejak KHJL berdiri setahun sebelumnya, dan melakukan penggorganisasian petani jati hutan.  Inilah awal perubahan perilaku, menghentikan aktivis illegal logging dan membangun community logging.

Gerakan itu semakin mendapatkan dukungan dari masyarakat ketika mereka mengetahui, KHJL membawa dampak ekonomi. Utamanya, tidak ada lagi permainan harga kayu oleh para pengepul kayu hasil illegal logging. Bila sebelumnya harga kayu jati laku antara Rp 300-350 ribu permeter kubik, kini menjadi Rp 400 ribu meter kubik.  Bahkan lebih.

Ketika tahun 2005 KHJL  mendapatkan sertifikat hijau dari SmartWoodForest Stewardship Council (FSC) – promotor manajemen hutan, harga kayu KHJL pun melambung. Hingga mencapai titik Rp 750 ribu permeter kubik.  Jaringan pasar pun perlahan-lahan terbangun dengan harga yang terjamin.  “Kami juga mendapatkan bibit gratis dan sisa hasil usaha dari koperasi,” kata Gustan, eks pelaku illegal logging, salah satu anggota KHJL.

Belum tuntas

Sayangnya, kesadaran yang dimiliki KHJL itu hanya muncul dari warga di 23 desa di delapan kecamatan Kowane Selatan. Padahal, jumlah seluruh desa ada  46 desa. Memang, kerja penyadaran belum tuntas. Tapi, semangat yang dimiliki anggota KHJL yang awalnya hanya berjumlah 196 orang (kini menjadi 763 orang) itu patut dijadikan tauladan. Lahan yang dikerjakan pun terbukti semakin meningkat. Dari 264 hektar, menjadi 1.269 hektar.

“Sejak dilakukan upaya pengelolaan hutan jati di lahan milik, warga Konawe Selatan semakin termotivasi untuk memperbanyak tanaman jati di lahan miliknya,” kata Sultan, aktivis JAUH yang selama ini aktif mendampingi KHJL.

Hal itu sejalan dengan karakter kabupaten yang baru berdiri pada 2 Mei 2003 itu. Apalagi dengan potensi sumber daya kehutanan yang luar biasa. Berdasarkan survei Dinas Kehutanan Sulawesi Tenggara pada 2003, Konawe Selatan memiliki luas areal tanaman perkebunan rakyat sekitar 110 ribu hektar. Sekitar 37.5 ribu hektarnya menghasilkan jambu mete, kapas, kakao dan lada, jati dll.

Luas kawasan hutan Kabupaten Konawe Selatan sendiri, berdasarkan SK Menhut tahun 1999 tercatat seluas 451 ribu hektar. Dari luas itu, hutan produksi ditaksir seluas 160 ribu hektar. Tak heran bila Konawe juga dikenal sebagai daerah sumber bahan baku kayu jati di Sulawesi Tenggara, setelah Kabupaten Muna.

“Sebelum 2003, masih ditemukan cara pandang sebagian masyarakat yang lebih memilih cara-cara instan sekalipun dengan jalan illegal dan membalak hutan lindung,” kata Azis Hamid, aktivis Jauh. (Marwan Azis)

Dipublis di situs http://www.Lingkarberita.com

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

One response »

  1. Abdul Maal mengatakan:

    Mohon maaf sdr Marwan bahwa saya bukan pelaku Ileggal Logging….jadi apa yang bpk tulis itu perlu di revisi….hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s