“Andai waktu bisa diputar, tentu saya bersedia  menghabiskan waktu menikmati masa-2 indah bersama dirimu seperti saat kita beranjak dewasa,”

Malam ini saya kembali menemukan foto mu secara tak sengaja di sebuah jejaring social. Foto-2 itu kembali mengingatkan suasana masa kecil yg indah bersama dirimu dan teman-2 sepermainan lainnya..main petak umpet, balapan sepeda. manjat pohon sawo manila (Manilkara zapota) dan pohon bunne di belakang rumah.

Di saat bulan Ramadhan tiba, kita selalu menyambutnya dgn rian gembira, tak lengkap rasannya tanpa main petasan di bawah pohon sawo dan pelataran rumah.

Selain senang mengkomsumsi buah sawo, yg banyak ditanam di pekarangan rumah nenek (kakek) di Bantaeng, buah lainnya juga menjadi kesukaan saya adalah buah buni atau bunne (makassar), buah bunne kecil-kecill berwarna merah, dan tersusun dalam satu tangkai panjang, menyerupai rantai.

Buah itu ditanam di belakang rumah. Sayang pohon bunne saat ini sudah termasuk tumbuhan yang sudah jarang dijumpai di pekarangan atau di kebun, atau jangan-2 tanaman khas indonesia ini termasuk tanaman yg terancam punah? Terakhir saya melihat pohon bunne yg tengah berbuah di Komplek Bier Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Setiap kali melewati pohon itu, saya selalu ingat seseorang yg pernah dekat di hati, kebetulan kami sama-2 suka dengan buah tersebut.

Buah bunne dapat dimakan sebagai buah meja, bisa dibuat selai atau dirujak, atau difermentasi menjadi minuman alkohol di Filipina dan Jawa. Setiap daerah, namanya berbeda-beda, orang sunda menyebutkan buah tersebut buah boni atau buni, bunne (Makassar), wuni (Jawa). Kok jadi panjang lebar ngupas soal buah yg penuh kenangan masa kecil itu. #Dasar anak agronomi…he he he.

Bagiku, buah buni tak hanya enak dicicipi, tapi juga punya kenangan tersendiri antara saya dan seseorang, sekalipun waktu itu tak setiap hari bisa mencicipinya karena memang tidak setiap saat berbuah. Beda dgn buah pinang yang begitu melekat dlm keseharian orang papua. Bagi orang Papua, menghabiskan hari tanpa mengunyah buah pinang, rasanya ada yg kurang, tak heran buah pinang menjadi simbol persahabatan bagi orang Papua dan orang non Papua yg berkunjung ke Bumi Cenderawasih.

Begitu kuatnya memori masa itu. Setiap kali melewati pohon bunne yang berdiri tegak di pelataran sebuah rumah Jln.Menteng Dalam, ingatanku selalu tertuju ke seseorang. Terutama di suatu sore yg indah, di saat saya menemukan sebuah dua huruf inisial nama tertulis di sebuah pohon, yang tak lain adalah nama depanku, dan nama cewek, yg juga menjadi teman sepermainan saat itu.

Ah masa lalu yg indah,yg susah dilupakan..Andai waktu bisa diputar, tentu saya bersedia menghabiskan waktu seperti saat kita berajak dewasa # Sungguh Anugerah Terindah.

Tapi bagaimana dengan pohon bunne di belakang rumah itu? masih dia berdiri tegak dan membolehkan kita memetik buahnya, atau jangan-2 bernasib sama dengan pohon-2 hijau yg berada dibalik gunung nah jauh di sana?

About marwanazis

selamat datang diblog pribadiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s